Lompat ke konten

TBBR Membumi di Tangkuban Perahu; Beri Pesan Mendalam

TBBR News, Bandung – Kabut tipis masih menggantung di lereng Gunung Tangkuban Perahu, Minggu (21/6/2026). Udara pegunungan yang dingin tidak menghalangi ribuan orang dari berbagai penjuru Nusantara untuk berkumpul dalam Pagelaran Ngertakeun Bumi Lamba ke-18, sebuah perhelatan budaya dan spiritual yang mengingatkan manusia agar tidak tercerabut dari akar peradabannya.

Di tengah arus modernisasi yang bergerak semakin cepat, pertemuan lintas suku, lintas budaya, dan lintas bangsa itu seakan menjadi ruang kontemplasi bersama sejauh mana manusia masih mengingat asal-usulnya, dan seberapa kuat ia menjaga hubungan dengan alam, leluhur, serta Sang Pencipta.

Anggota TBBR Mengikuti Acara Ngertakeun Bumi Lamba di Tangkupan Perahu.

Tahun ini, perhatian peserta tertuju pada kehadiran anggota Tariu Borneo Bangkule Rajakng, Wilayah DKI Jakarta. Untuk pertama kalinya, TBBR Wilayah DKI Jakarta menerima undangan khusus dari panitia penyelenggara. Kehadiran tersebut bukan sekadar formalitas, melainkan menjadi penanda semakin diakuinya eksistensi TBBR dalam percaturan kebudayaan nasional.

Selain TBBR Wilayah DKI Jakarta, kegiatan ini juga dihadiri oleh Dewan Pengurus Pusat (DPP) TBBR dan perwakilan DPW TBBR Malaysia. Kehadiran unsur TBBR dari berbagai wilayah memperlihatkan bahwa semangat persaudaraan Dayak telah melampaui batas-batas geografis.

Sebanyak 48 anggota TBBR, termasuk empat orang Mangku, hadir dalam rombongan yang dipimpin langsung oleh Pangalangok Jilah (PJ). Tampil mengenakan atribut pasukan Merah – TBBR lengkap, rombongan TBBR tampil mencolok di tengah ribuan peserta yang memadati kawasan Tangkuban Perahu.

Pangalangok Jilah saat memberikan pesan mendalam tentang Adat dan Budaya.

Sorotan kamera nyaris tak pernah lepas dari rombongan Dayak asal Borneo tersebut. Banyak peserta mendekat, mengabadikan momen, bahkan berdialog untuk mengenal lebih jauh tentang TBBR dan kebudayaan Dayak.

Namun, lebih dari sekadar penampilan, yang paling membekas adalah pesan yang disampaikan Pangalangok Jilah, Pemimpin Besar Pasukan Merah TBBR.

Menurut Pangalangok Jilah, keberadaan adat dan budaya tidak boleh dipandang sebagai simbol masa lalu yang usang. Adat justru merupakan akar yang menopang keberlangsungan sebuah bangsa.

“Kita harus melestarikan adat dan budaya sebab Manusia tanpa adat ibarat pohon tanpa akar. Cepat atau lambat, pohon itu akan mati,” tegas Pangalangok Jilah.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak memandang rendah berbagai simbol dan praktik tradisi leluhur.

“Jangan risih dengan bau kemenyan atau dupa, jangan pula mengatakan itu kuno. Sebab, kalau tidak ada yang kuno, tidak akan ada yang kini,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menjadi kritik halus terhadap cara pandang modern yang kerap menempatkan tradisi adat budaya sebagai sesuatu yang tertinggal. Padahal, peradaban hari ini berdiri di atas fondasi nilai-nilai yang diwariskan oleh generasi sebelumnya.

Suasana ritual di Tangkuban Perahu

Pangalangok Jilah menegaskan, keberlangsungan adat tidak hanya bergantung pada para tetua adat, tetapi juga pada kesadaran generasi muda.

“Yang tua memiliki mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi penerus. Sementara yang muda wajib menjaga dan melestarikan adat serta budaya leluhur agar tidak hilang ditelan zaman,” pesannya.

Di tengah dunia yang semakin seragam akibat globalisasi, pesan tersebut terasa semakin relevan. Sebab, ketika identitas budaya hilang, sebuah bangsa sesungguhnya sedang kehilangan sebagian dari jiwanya.

Dari lereng Tangkuban Perahu, sebuah pesan kembali ditegaskan, keberagaman bukanlah alasan untuk saling menjauh, melainkan kekuatan untuk saling menguatkan. Ketika adat dihormati, budaya dipelihara, dan bumi dirawat, di situlah persatuan menemukan fondasinya yang paling kokoh.

Humas TBBR DPW Jakarta

Translate »